Keunggulan Sekolah

School Excellence

Pendataan Alumni

Forum Alumni

Materi Pelajaran

Ekstrakulikuler

Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) dan Budaya Kerja industri

Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup) dan Budaya kerja industri

A. Pengertian dan Sejarah
Setiap melakukan suatu pekerjaan kita harus memperhatikan K3LH agar tidak terjadi kesalahan yang dapat berakibat fatal. Selain itu kita harus memperhatikan kebersihan yang ada pada lingkungan kerja agar dapat menciptakan suasana yang nyaman dan sehat. Sehat artinya bahwa lingkungan itu telah benar-benar bersih. Nyaman memiliki arti yang menunjukan bahwa tempat itu memang rapi dan indah serta enak untuk dipandang

K3LH adalah singkatan dari Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan Hidup. Ini mencakup segala upaya yang dilakukan perusahaan untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan, keselamatan, dan kualitas lingkungan hidup bagi karyawan yang bekerja di tempat kerja. Implementasi K3LH bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan ramah lingkungan.

Sejarah K3LH di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 1 tentang Keselamatan Kerja. Undang-undang tersebut menjadi landasan bagi perkembangan keselamatan kerja di Indonesia. Pada tahun 1992, pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja. Sejak itu, K3LH menjadi perhatian serius bagi perusahaan dan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kerja dan melindungi kesehatan karyawan.

B. Keselamatan Kerja
Yaitu usaha untuk sedapat mungkin membrikan jaminan kondisi kerja yang aman dan sehat untuk mencegah kecelakaan,cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja pada setiap karyawan danuntukmelindungi sumber daya manusia.
Faktor-faktor pendukung keselamatan kerja yaitu:

  1. Pengaturan jam kerja dengan memperhatikan kondisi fit untuk pekerja
  2. Pengaturan jam istirahat yang memadai untuk menjaga kestabilan untuk bekerja
  3.  Pengaturan Penggunaan peralatan kantor yang menjamin kesehatan kerja pekerja
  4. Pengaturan Sikap tubuh dan anggota badan yang efektif yang tidak menimbulkan gangguan ketika bekerja
  5. Penyediaan sarana untuk melindungi keselamatan kerja pekerja
  6. Kedisiplinan pekerja untuk mentaati ketentuan penggunaan peralatan kerja dan perlindungankese lamatan kerja yang telah disediakan dan diatur dengan SOP (Standard Operating Prosedur) yang telah ditetapkan

C. Kesehatan Kerja
Yaitu Suatu kondisi yang optimal/ maksimal dengan menunjukkan keadaan yang fit untuk mendukung terlaksananya kegiatan kerja dalam rangka menyelesaikan proses penyelesaian pekerjaan secara efektif.

Faktor-faktor pendukung kesehatan kerja yaitu:

  1. Pola makan yang sehat dan bergizi
  2. Pola pengaturan jam kerja yang tidak menganggu kesehatan pekerja
  3. Pola pengaturan istirahat yang cukup pada pekerja/ profesional
  4. Pola pengaturan tata cara sikap bekerja secara ergonomi
  5. Pola pengaturan lingkungan yang harmonis yang tidak mengganggu kejiwaan
  6. Pola pengaturan tata ruang kerja sehat
  7. Pola pengaturan tata warna dinding dan perabotan yang tidak ganggu kesehatan
  8. Pola pengaturan penerangan ruang kerja yang memadai
  9. Pola perlindungan atas penggunaan peralatan yang menimbulkan gangguan kesehatan

D. Dasar Hukum K3
Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Yang diatur oleh UndangUndang ini adalah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik
Indonesia.

E. Tujuan K3

  1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi dan produktivitas nasional
  2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja tersebut
  3. Memeliharan sumber produksi agar dapat digunakan secara aman dan efisien

F. Kebijakan dan Prosedur K3
a) Unsur manusia :

  • Merupakan upaya preventif agar tidak terjadi kecelakaan atau paling tidak untuk menekan timbulnya kecelakaan menjadi seminimal mungkin (mengurangi terjadinya kecelakaan).
  • Mencegah atau paling tidak mengurangi timbulnya cidera, penyakit, cacat bahkan kematian yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja.
  • Menyediakan tempat kerja dan fasilitas kerja yang aman, nyaman dan terjamin sehingga etos kerja tinggi, produktifitas kerja meningkat.
  • Penerapan metode kerja dan metode keselamatan kerja yang baik sehingga para pekerja dapat bekerja secara efektif dan efisien.
  • Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.

b) Unsur pekerjaan :

  • Mengamankan tempat kerja, peralatan kerja, material (bahan-bahan), konstruksi, instalasi pekerjaan dan berbagai sumber daya lainnya.
  • Meningkatkan produktifitas pekerjaan dan menjamin kelangsungan produksinya.
  • Terwujudnya tempat kerja yang aman, nyaman dan terjamin kelangsungannya.
  • Terwujudnya pelaksanaan pekerjaan yang tepat waktu dengan hasil yang baik dan memuaskan.

c) Unsur perusahaan :

  • Menekan beaya operasional pekerjaan sehingga keuntungan menjadi lebih besar, perusahaan bisa lebih berkembang dan kesejahteraan karyawan dapat ditingkatkan.
  • Mewujudkan kepuasan pelanggan (pemberi kerja) sehingga kesempatan perusahaan untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan lebih banyak.
  • Terwujudnya perusahaan yang sehat Kecelakaan
    Kejadian yang tidak terduga (tidak ada unsur kesengajaan) dan tidak diharapkan karena mengakibatkan kerugian, baik material maupun penderitaan bagi yang mengalaminya.

Penyebab Kecelakaan
a) Faktor Internal

  1. Kecenderungan seseorang untuk mendapatkan kecelakaan, apabila sedang melaksanakan pekerjaan tertentu.
  2. Kemampuan dan kecakapan seseorang yang terbatas dan tidak berimbang dengan pekerjaan yang ditangani.
  3. Sikap dan perilaku yang tidak baik dalam melaksanakan pekerjaan misalnya merokok di tempat yang membahayakan, bekerja sambil bercanda, tidak mematuhi peraturan keselamatan kerja dsb.

b) Faktor External

  1. Pendelegasian dan pembagian tugas kepada para pekerja yang tidak proporsional dan kurang jelas.
  2.  Jenis pekerjaan yang ditangani mempunyai resiko kecelakaan cukup tinggi (rentan).
  3. Prasarana dan sarana kerja yang tidak memadai.
  4. Upah dan kesejahteraan karyawan yang rendah.
  5. Timbulnya gejolak sosial, ekonomi dan politik yang mengakibatkan munculnya keresahan pada para pekerja.
  6. Lingkungan dan peralatan kerja yang tidak memenuhi standar keselamatan kerja, misalnya lantai berair dan licin, ruangan kerja berdebu, ruangan kerja bersuhu tinggi, mesin-mesin yang tidak dilindungi, kondisi hujan, peralatan kerja rusak dsb.

Akibat Kecelakaan 5K ,yaitu :
1. Kerusakan
2. Kekacauan Organisasi
3. Keluhan dan Kesedihan
4. Kelaianan dan Cacat
5. Kematian

Klasifikasi Kecelakaan
a) Menurut jenis kecelakaan ( Terjatuh)
– Tertimpa benda jatuh
– Tertumbuk atau terkena benda
– Terjepit oleh benda
– Pengaruh suhu tinggi
– Terkena sengatan arus listrik
– Tersambar petir

b) Menurut sumber kecelakaan
a. Dari mesin
b. Alat angkut dan alat angkat
c. Bahan/zat erbahaya dan radiasi
d. Lingkungan kerja

c) Menurut Sifat Luka atau Kelainan
Patah tulang, memar, gegar otak, luka bakar, keracunan mendadak, akibat cuaca

Keadaan yang tergolong Berbahaya:
1. Peralatan kerja yang rusak dan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
2. Mesin-mesin yang tidak terlindungi dengan baik.
3. Tempat kerja yang membahayakan (berdebu, licin, becek, berminyak, panas, berbau menyengat, terlalu dingin dsb).
4. Konstruksi atau instalasi pekerjaan yang tidak memenuhi syarat.

Perbuatan yang Berbahaya :
1. Bekerja sembarangan tanpa mengindahkan ketentuan dan peraturan keselamatan kerja.
2. Bekerja tanpa menggunakan baju atau menggunakan baju yang kedodoran.
3. Bekerja sambil bersendau gurau, merokok
4. Membuka dengan sengaja perlengkapan pelindung mesin dan instalasi pekerjaan yang membahayakan.

Pencegahan Kecelakaan:

Mempersiapkan pekerja untuk dapat bekerja dengan aman dengan cara :

  1. Mmberikan penjelasan dan contoh bagaimana melaksanakan suatu pekerjaan.
  2. Memberikan penjelasan dan contoh bagaimana suatu pekerjaan harus dikerjakan dengan aman.
  3. Menjelaskan peralatan kerja dan alat-alat keselamatan kerja yang dipakai, termasuk cara penggunaannya.
  4.  Menjelaskan tentang tempat dan jenis pekerjaan yang mempunyai tingkat bahaya tinggi dan menjelaskan upaya penanganan serta pencegahannya agar tidak timbul kecelakaan.
  5. Memberikan buku pedoman keselamatan kerja.
  6. Memasang poster, slogan, spanduk dll di tempat tertentu dan di tempat kerja.
  7. Memberikan pendidikan dan pelatihan keselamatan kerja.

Penaggulangan kecelakaan akibat kebakaran
1. Jangan membuang puntung rokok ke tempat yang mudah terbakar
2. Hindari sumber-sumber menyala di tempat terbuka
3. Hindari peralatan yang mudah meledak

Perlengkapan pemadam kebakaran

Terdiri dari 2 macam yaitu:

  1. Alat pemadam yang dipasang di tempat. Contohnya yaitu air otomatis,pipa air,pompa air dan selang untuk aliran listrik.
  2. Alat pemadam yang dapat di bawa yaitu alat pemadam kebakaran dan bahan kering CO2 atau busa.Kebakaran akibat instalasi listrik dan petir:
  3. Buat instalasi listrik sesuai dengan aturan
  4. Gunakan sekring/MCB sesuai ukuran
  5. Gunakan kabel standart yang baik
  6. Hindari percabangan antar rumah
  7. Ganti kabel dan instalasi yang telah usang

Kecelakaan terhadap zat berbahaya

  1. Bahan eksplosif yaitu bahan yang mudah meledak. Contoh: garam logam yg dapat meledak krn oksidasi diri, tanpa pengaruh tertentu dari luar.
  2. Bahan-bahan yang mengoksidasi yaitu bahan ini kaya O2, sehingga resiko kebakaran sangat tinggi
  3. Bahan-bahan yg mudah terbakar yaitu tingkat bahaya bahan-bahan ini ditentukan oleh titik bakarnya,makin rendah titik bakarnya,makin berbahaya.
  4. Bahan beracun
  5. Bahan korosif meliputi asan alkali, atau bahan lain yg menyebabkan kebakaran pd kulit yang tersentuh
  6. Bahan radioaktif yaitu meliputi isotop radioaktif dan semua persenyawaan yg mengandung bahan radioaktif.

Budaya kerja industri

A. Pengertian Budaya Kerja Industri
Budaya Kerja adalah falsafah yang didasari pada pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok yang tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja (Gering Supriyadi dan Tri Guno). Budaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku sumber daya manusia agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Pembentukan budaya kerja memerlukan proses yang panjang, Dimulai dari karakter kerja individu yang baik yang menjadi kebiasaan dan akhirnya membentuk karakter kerja secara kolektif yang disebut budaya kerja.

Budaya kerja di dunia terdapat faktor – faktor yang dapat mempengaruhi manajemen SDM Global, yakni politik, ekonomi, budaya, dan hokum. Didalam faktor – faktor yang mempengaruhi manajemen SDM Global salah satunya adalah budaya. budaya suatu organisasi yang mensosialisasikan orang Robbins (2003 : 31 2 dalam Septiadi dan Zunaidah, 2014 : 76). Jadi budaya adalah suatu faktor yang dapat mempengaruhi manajemen SDM, yang dapat menjadi masalah apabila keadaannya terhalang pada suatu hal tertentu. Untuk itu manajemen SDM harus memperhatikan faktor terkait khususnya budaya, karena apabila kebiasaan terus dibiarkan akan merusak budaya yang ada pada suatu perusahaan khususnya pada manajemen perusahaan atau organisasi (Septiadi dan Zunaidah, 2014 : 76).
Suatu budaya yang kuat akan mendesak lebih banyak pengaruh serta mendukung atau mempengaruhi kinerja dan kepuasan karyawan dengan dampak yang lebih besar pada budaya yang lebih kuat Robbins
(2003 : 308 dalam Septiadi dan Zunaidah,2014 : 76). Banyak karyawan yang kurang memperhatikan standar operasional kerja, sehingga tercipat sebuah budaya kerja yang menurunkan produktivitas kerja.

Budaya kerja yang diterapkan oleh karyawan dapat menjadikan suatu kebiasaan yang sulit dirubah,sehingga memerlukan waktu untuk mengubahnya kembali.

B. Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja adalah perbandingan kegiatan antara efektivitas keluaran dengan efektivitas masukan,artinya sebagai sikap mental yang diperlukan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan dalam setiap pekerjaannya Muchdarsyah (201 0 : 102 dalam Septiadi dan Zunaidah, 2014 : 79 Produktivitas kerja mencakup sikap mental patriotic yang memandang hari depan secara optimis dengan berakar pada keyakinan diri bahwa kehidupan hari ini adalah lebih baik dari hari kemarin dan hari esok adalah lebih baik dari hari ini. (Sinungan,2008 : 2)

C. Nilai – nilai dan Budaya Kerja
Nilai dan budaya kerja merupakan bagian dari revolusi mental untuk mewujudkan manusia yang berintregitas. Mau bekerja keras dan semangat bergotong – royong. Terdapat lima nilai – nilai dan budaya kerja yang ditetapkan sebagai acuan para karyawan untuk dipahami dan diamalkan dalam bekerja, bersikap dan berkontribusi dalam pengembangan industri.

1. Intregitas
Jack Weich, dalam bukunya yang berjudul “Winning” mengatakan, “intregitas adalah sepatah kata yang kabur (tidak jelas). Orang – orang yang memiliki intregitas mengatakan kebenaran, dan orang – orang itu memegang kata – kata mereka. Mereka bertanggung jawab atas tindakan – tindakan mereka di masa lalu,mengakui kesalahan mereka dan mengoreksinya. Mereka mengetahui hokum yang berlaku dalam Negara mereka, industry mereka dan perushaan mereka, baik yang tersurat maupun yang tersirat dan mentaatinya. Mereka bermain untuk menang secara bersih (benar), seturut peraturan yang berlaku.“berbagai survey dan studi kasus telah mengidentifikasi intregitas atau kejujuran sebagai suatu karakteristik pribadi yang paling dihasrati dalam diri seorang pemimpin. Jack Weich. (2005). Winning.

2. Profesional

David H. Maister (1998 : 56) mengatakan bahwa orang – orang profesional adalah orang – orang yang diandalkan dan dipercaya karena mereka ahli, terampil, punya ilmu pengetahuan, beratnggung jawab, tekun, penuh disiplin, dan serius dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Semua itu membuat istilah profesionalisme identic dengan kemampuan, ilmu atau pendidikan dan kemandirian.

3. Produktif
Produktif adalah sikap yang berkonsep pada hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini. (Bambang Tri Cahyono, 1996 : 283).

4. Kompetitif
Kompetitif adalah sebuah kata yang menggambarkan siuasi kerja saat ini. jika dibandingkan dengan era yang terdahulu, lingkungan kerja saat ini jauh lebih kompetitif. Persaingan yang semakin ketat menuntut kita untuk terus memiliki sikap kompetitif.

5. Inovatif
Inovatif adalah mencurahkan segala pikiran atau kemampuan diri dalam berfikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru bagi diri kita, masyarakat dan lingkungan kerja.

D Penerapan Budaya Kerja Industri :
Seringkali kita mendapati ketidakteraturan dalam lingkungan dimana kita berada saat ini. Saat melihat ketidakteraturan tersebut, yang kita rasakan adalah ketidaknyamanan. Hal ini tentulah sangat menganggu konsentrasi kita dalam melakukan suatu pekerjaan. Ketika ketidakteraturan tersebut berubah menjadi suatu kebiasaan, maka hal tersebut mempengaruhi budaya kerja kita ke depannya. Solusi untuk masalah ketidakteraturan ini adalah dengan menerapkan Konsep 5R.

Konsep 5R berasal dari terjemahan Konsep 5S yang diterapkan oleh negara Jepang pada mulanya.Dalam bahasa Jepang, 5S merupakan singkatan dari 5 kata, yaitu Seiri, Seiton, Seiso,Seiketsu, dan Shitsuke. Adapun dalam bahasa Indonesia, kelima kata tersebut diterjemahkan menjadi 5R yang merupakan singkatan dari Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. Dengan menerapkan konsep 5R, maka akan terbentuk suatu budaya kerja yang dapat dapat meningkatkan efisiensi dan produktifitas kita di dalam bekerja.

1. RINGKAS (SEIRI)
Ringkas adalah membedakan antara item yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan dan selanjutnya menyingkirkan item yang tidak diperlukan tersebut. Ringkas dapat dilakukan dengan cara mengeluarkansemua sampah/benda yang tidak diperlukan dari lingkungan kerja.

Langkah-langkah penerapan Ringkas, yaitu :

  • Memisahkan barang/peralatan yang diperlukan dan tidak diperlukan.
  • Membuang barang yang tidak diperlukan, serta tidak meletakkan barang pada suatu area yang tidak berhubungan dengan pekerjaan di area tersebut.
  • Tidak meletakkan peralatan tanpa kejelasan, karena suatu saat peralatan tersebut akan dibutuhkan.

2. RAPI (SEITON)
Rapi adalah menata item yang diperlukan pada tempat yang memudahkan untuk segera mengambil item tersebut. Rapi berarti menyimpan barang dalam tata letak yang benar mengikuti suatu aturan yang ditetapkan.

Langkah-langkah penerapan Rapi, yaitu :
• Menandai barang/peralatan yang rusak, ditempatkan terpisah dan segera dicari penggantinya.
• Meletakkan barang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
• Memastikan semua barang memiliki tempat khusus dan memastikan semua barang berada di tempat khusus tersebut.
• Mendorong semua orang untuk mengembalikan barang pada tempatnya setelah digunakan.

3. RESIK (SEISO)
Resik adalah menjaga lingkungan kerja dan seluruh item dalam keadaan baik dan bersih. Resik berarti menjaga agar tempat kerja bersih dan rapi, serta melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi tempat kerja dan barang dalam keadaan baik dan pada tempatnya.

Langkah-langkah penerapan Resik, yaitu :
• Mencari sumber kotoran dan menentukan apa saja yang hendak dibersihkan.
• Membagi tugas untuk bertanggung jawab pada kebersihan area masing-masing tempat.
• Memilih peralatan kebersihan yang akan digunakan.
• Melakukan pembersihan sesuai dengan daftar cek dan jadwal.
• Memeriksa dan mengevaluasi tempat kerja yang telah dibersihkan.

4. RAWAT (SEIKETSU)
Rawat adalah membuat suatu standar/kondisi yang mendukung untuk memelihara ketiga komponen 5R,yaitu Ringkas (Seiri), Rapi (Seiton), dan Resik (Seiso). Rawat berarti memelihara lingkungan yang sudah bersih dan rapi sepanjang waktu dengan membuat standar prosedur yang diketahui dan dipahami semua orang.

Langkah-langkah penerapan Rawat, yaitu :
• Mempertahankan tempat kerja yang ringkas, rapi dan bersih dg melakukan pemantapan (usahaterus-menerus).
• Melakukan metode visual manajemen dengan label atau kode sebagai standar prosedur.

5. RAJIN (SHITSUKE)
Rajin adalah membuat 4R sebelumnya menjadi suatu kebiasaan untuk pengembangan yang berkelanjutan. Rajin berarti mempertahankan standar prosedur yang telah ada untuk menjalankan Ringkas, Rapi, Resik, dan rawat secara berkelanjutan.

Langkah-langkah penerapan Rajin, yaitu :
• Membuat standar persyaratan dan peraturan secara prosedural, misalnya penjadwalan, urutan prosedur yang harus dikomunikasikan dan diajarkan pada setiap karyawan untuk memahami standar prosedur tersebut.
• Menerapkan disiplin yang tinggi atas standar prosedur tersebut, sehingga menjadi kebiasaan atau sikap kerja seluruh karyawan.
• Membuat suasana yang kondusif sehingga setiap orang saling menghormati satu sama lain.

C. Glosarium

  1. HAZARD (POTENSI/SUMBER BAHAYA: sumber bahaya potensial yang dapat menyebabkan kerusakan (harm). Hazard dapat berupa bahan-bahan kimia, bagian bagian mesin, bentuk energi, metode kerja atausituasi kerja.
  2. HARM : kerusakan atau bentuk kerugian berupa kematian, cidera, sakit fisik atau mental, kerusakan properti, kerugian produksi, kerusakan lingkungan atau kombinasi dari kerugian-kerugian tadi.
  3. ACCIDENT : Suatu kejadian yang tidak diinginkan berakibat cedera pada manusia, kerusakan barang,gangguan terhadap pekerjaan dan pencemaran lingkungan.
  4. INCIDENT :Suatu kejadian yang tidak diinginkan, bilamana pada saat itu sedikit saja ada perubahan maka dapat mengakibatkan terjadinya accident. Contohnya sebagai berikut; Seseorang sedang duduk di suatu
    ruangan, setelah itu dia berdiri beberapa saat dengan maksud hendak berjalan ke depan. Saat dia sedang berdiri untuk siap-siap melangkah, tiba-tiba sebuah benda jatuh dari lantai atas tepat sejengkal di depan badannya. Seandainya orang itu lebih cepat saja dia untuk melangkah, tentu dia akan mendapat kecelakaan.
  5. DANGER (BAHAYA) : Merupakan tingkat bahaya dari suatu kondisi di mana atau kapan muncul sumber bahaya. Danger adalah lawan dari aman atau selamat.
  6. AMAN / SELAMAT (SAFE CONDITION) : suatu kondisi di mana atau kapan munculnya sumber bahaya telah dapat dikendalikan ke tingkat yang memadai.
  7. RISK (RESIKO) : ukuran kemungkinan kerugian yang akan timbul dari sumber bahaya (hazard) tertentu yang terjadi. Untuk menentukan resiko membutuhkan perhitungan antara konsekuensi / dampak yang mungkin timbul dan probabilitas, yang biasanya disebut sebagai Tingkat Resiko (level of risk).
  8. PENILAIAN RESIKO : pelaksanaan metode-metode untuk menganalisa tingkat resiko,mempertimbangkan resiko tersebut dalam tingkat bahaya (danger) dan mengevaluasi apakah sumber bahaya itu dapat dikendalikan secara memadai serta mengambil langkah-langkah yang tepat.

D. Daftar Pustaka
Achdiani, Y. (2013). Keamanan, kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). (Modul). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Ali, M. (1998). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Anizar. (2009). Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Daryanto. (2007). Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bengkel. Jakarta: Rineka Cipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Team PPDB SMK Kusuma Bangsa Bogor siap membantu Anda, silahkan Hubungi kami segera :-)